Rabu, 26 November 2025

satuan-satuan bahasa

 Bahasa terwujud dalam satuan-satuan kebahasaan (linguistics units). Ada sepuluh satuan kebahasaan yang dikenal dalam ilmu bahasa dewasa ini, yaitu fona, fonem, silabel, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf dan wacana. berikut penjelasannya.

1. fona. Fona atau bunyi bahasa adalah satuan bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia dan diamati dalam fonetik sebagai fon atau dalam fonologi fonem (Kridalaksana, 2008:38). Ada dua jenis bunyi bahasa yaitu vokoid yaitu bunyi yang dihasilkan dengan arus udara yang tidak mengalami rintangan (Wijana, 2009:16). Misalnya [a], [i], [e], dsb. Jenis yang kedua adalah kontoid yaitu bunyi yang dihasilkan dengan arus udara yang mengalami rintangan atau hambatan (Ibid, 2009:18). Misalnya [p], [r], [t], dsb.

2. Fonem adalah bunyi-bunyi yang berpotensi sebagai pembeda makna (Wijana, 2009:22). Salah satu cara menentukan sebuah fonem dalam sebuah sistem bahasa adalah dengan pasangan minimal. Pasangan minimal adalah dua buah kata yang memiliki satu bunyi yang berbeda. Misalnya kata tali dan tari. Dalam kedua kata tersebut terapat dua bunyi berbeda yaitu [l] dan [r]. Dengan demikian bunyi [l] dan [r] dalam bahasa Indonesia adalah fonem.

3. silabel disebut juga suku kata. Dalam kamus linguistik, silabel atau suku kata dapat dilihat dari tiga sudut pandang yaitu sudut fisiologi, artikulasi, dan fonologi. Dari sudut fisiologi, suku kata adalah ujaran yang terjadi dalam satu denyut yakni pada satu penegasan otot pada waktu penghembusan udara dari paru-paru. Dari sudut artikulasi, silabel adalah regangan ujaran yang terjadi dari satu puncak kenyaringan di antara dua unsur yang tak berkenyaringan. Dari sudut fonologi silabel adalah struktur yang terjadi dari satu fonem atau urutan fonem bersama dengan ciri lain seperti kepanjangan atau tekanan (Kridalaksana, 2008:230).

Dari pengertian tersebut diambil benang merah bahwa silabel adalah satuan ritmis yang terkecil. Artinya satuan yang memiliki puncak kenyaringan yang lazimnya diduduki oleh bunyi-bunyi vokal (Wijana, 2009:28). Bunyi konsonan berperan sebagai lembah suku.

Contoh silabel:

Kata kaki berasal dari suku kata ka- dan -ki.

Kata tangan berasal dari suku kata ta- dan -ngan.

4. morfem. Morfem adalah satuan gamatikal terkecil yang berperan sebagai pembentuk kata (Wijana, 2009:33). Sebagai pembentuk kata morfem merupakan satuan kebahasaan yang terkecil yang maknanya secara relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil (Kridalaksana, 2008:157). Dalam bahasa Indonesia morfem juga dapat berupa imbuhan.

Dalam morfem dikenal istilah morfem dasar yaitu morfem yang dapat berdiri sendiri seperti lari, datang, tidur, dsb. Ada juga morfem terikat yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri seperti awalan ber-, me(N-), akhiran –kan, -i, dsb. selain itu dikenal juga istilah morfem dasar yaitu bentuk yang merupakan dasar pembentukan kata polimorfemik (kata yang terdiri dari lebih dari satu morfem) misalnya rumah, alat, meja, dsb.

Sebuah morfem dasar dengan sendirinya sudah membentuk kata. Namun sebaliknya, konsep kata tidak saja meliputi morfem dasar tetapi juga meliputi semua bentuk gabungan antara morfem dasar dengan morfem terikat atau morfem dasar dengan morfem dasar

5. Kata adalah bentuk bebas yang terkecil yang tidak dapat dibagi menjadi bentuk bebas yang lebih kecil lagi (Wijana, 2009:33). Berdasarkan kamus linguistik, kata adalah satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem; satuan terkecil dari leksem yang telah mengalami proses morfologis; morfem atau kombinasi morfem yang oleh ahli bahasa dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas (Kridalaksana, 2008: 110).

Sementara itu, Gorys Keraf menjelaskan bahwa pengertian kata tidak dapat dipisahkan dengan pengertian arti. Arti adalah hubungan antara tanda berupa lambang bunyi ujaran dengan hal atau barang yang diwakilinya. Jadi kata merupakan lambang bunyi ujaran tentang suatu hal atau peristiwa. Seperti halnya manusia yang memiliki nama demikian juga benda dan peristiwa yang juga memiliki lambang bunyi ujaran berupa kata yang memiliki arti atau makna.

6. frase. Pada dasarnya frasa adalah gabungan kata. Namun tak semua gabungan kata merupakan frasa. Frasa merupakan gabungan kata yang tidak melewati batas fungsi. Yang dimaksud dengan fungsi adalah istilah seperti subjek, predikat, objek, dan keterangan (Wijana, 2009:46).

Menurut Gorys Keraf, frasa merupakan gabungan dua atau lebih kata yang mana masing-masing kata tetap mempertahankan makna dasar katanya dan setiap kata pembentuknya tidak berfungsi sebagai subjek dan predikat dalam konstruksi itu. Hal ini penting untuk membedakan frasa dengan kata majemuk dan frasa dengan kalimat atau klausa. Kata majemuk juga merupakan gabungan kata namun kata-kata yang bergabung tersebut telah melahirkan pengertian baru dan setiap kata tidak lagi mempertahankan maknanya. Misalnya kambing hitam sebagai kata majemuk bukan berarti kambing yang hitam melainkan orang yang dipersalahkan, sedangkan sebagai frasa kambing hitam berarti kambing yang hitam.

Dari dua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa frasa adalah gabungan kata yang mana setiap kata tetap mempertahankan makna masing-masing dan gabungan kata tersebut tidak melewati batas fungsi. Dalam sebuah frasa hanya terdapat satu kata sebagai unsur inti atau unsur pusat. Kata-kata yang lain hanyalah sebagai unsur penjelas.

Contoh frasa:

rumah saya, sedang makan, sangat banyak, di kampus, sepuluh ekor

7. klausa. kamus linguistik mengatakan bahwa klausa adalah kelompok kata yang yang sekurang-kurangnya memiliki subjek dan predikat dan berpotensi sebagai kalimat (Kridalaksana, 2008:124).

8. kalimat. kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa (Kridalaksana, 2008:103). kalimat juga dapat didefinisikan sebagai rangkaian kata yang memberikan makna dan pengertian yang sempurna, mengandung tujuan tertentu dan disengaja.

9. paragraf. Paragraf menurut kamus linguistik adalah bagian dari wacana yang mengungkapkan pikiran atau hal tertentu yang lengkap tetapi masih berkaitan dengan isi seluruh wacana. Paragraf dapat terdiri dari satu atau sekelompok kalimat yang saling berkaitan (Kridalaksana, 2008:173). Paragraf atau sering juga disebut alinea merupakan bagian dari suatu karangan yang penulisannya dimulai dengan baris baru dan merupakan suatu kesatuan pikiran yang berisikan satu ide pokok dalam rangkaian kalimat-kalimat. Jadi paragraf merupakan kumpulan beberapa kalimat yang mengandung satu ide pokok dan merupakan bagian dari sebuah karangan utuh yang mendukung topik pembicaraan karangan tersebut.

Dalam satu paragraf terdapat satu kalimat utama dan satu atau lebih kalimat penjelas. Seperti halnya wacana, setiap kalimat yang berurutan harus memiliki hubungan timbal balik dan tidak boleh saling bertentangan. Kalimat-kalimat yang menyusun sebuah paragraf juga harus bersifat utuh dan padu seperti pada kasus wacana.

10. wacana. Menurut kamus linguistik, wacana didefinisikan sebagai satuan kebahasaan terlengkap; dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (buku, ensiklopedi, novel, dll) paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap (Kridalaksana, 2008: 259).

Daftar Pustaka

Baryadi, I. Praptomo. 2002. Dasar-Dasar Analisis Wacana dalam Ilmu Bahasa. Yogyakarta: Pustaka Gondho Suli.

_________________. 2011. Morfologi dalam Ilmu Bahasa. Yogyakarta: Penerbit Sanata Dharma.

Keraf, Gorys. 1991. Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Widia Sarana Indonesia.

Kridalaksana, Harimurti. 1989. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

___________________. 2008. Kamus Linguistik (Edisi 4). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Purwoko, Herudjati. 2008. Discourse Analysis: Kajian Wacana bagi Semua Orang. Jakarta: Penerbit Indeks.

Samsuri. 1988. Berbagai Aliran Linguistik Abad XX. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sobur, Alex. 2006. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sugono Dendy (Pemred). 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Keempat). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Wijana, I Dewa Putu. 2009. Berkenalan dengan Linguistik. Yogyakarta: Pustaka Araska.

Sumber dari Internet

http://organisasi.org/pengertian_paragraf_alinea_dan_bagian_dari_paragraf_bahasa_indonesia

http://pendidikan-sma.blogspot.com/2009/11/pengertian-paragraf-dan-pengembangannya.html

http://massofa.wordpress.com/2008/01/14/kajian-wacana-bahasa-indonesia/

http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa

http://linguitik-jombang.blogspot.com/2009/03/sejarah-linguistik-indonesia.html

http://emperordeva.wordpress.com/about/linguistik-suku-kata/

http://id.wikibooks.org/wiki/Bahasa_Indonesia/Bunyi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar