00:00:00 Ini sebelum saya mulai, coba kalian renungin satu pertanyaan ini. Jadi nanti sepanjang saya jelasin presentasinya, kalian terus pikirin ini ya, kenapa kalian mau mulai bisnis? Ya, karena alasan setiap orang itu beda-beda. Ya, yang ingin saya tekankan pertama itu adalah semua produk ya, semua jasa, semua hal yang kamu lihat di sekitar kamu itu adalah produk atau jasa dari suatu pihak. Nah, kadang kita enggak nyadar. Coba deh kalian lihat di ruangannya kalian. Misalnya ada layar monitor, itu adalah produk dari ya
00:00:32 perusahaan yang bikin monitor. Jadi ada pabrik yang bikin monitornya, ada distributor yang ngedistribusiin monitornya, ada tokonya yang jual ke retail, terus kalian beli semuanya kalian coba lihat satu persatu yang ada di sekitar kalian dari kloset WC, dari kacamata baju yang kalian pakai sampai kalau di sini misalnya kalian ada yang pakai ART di rumah ya itu juga jasa gitu kan. Jadi ada apa yang ada di sekeliling kita termasuk yang kita beli yaitu adalah produk ataupun jasa dari suatu pihak baik itu adalah perusahaan ataupun
00:01:06 perorangan. Sesimpel itu. Misalnya ini, ini semuanya produk dari suatu perusahaan semuanya ya. Kalian lihat dari lampunya, jam, bahkan tangga ya, karpet ini semuanya produk. Ini sebenarnya bisnisnya dari banyak perusahaan. Ada yang fokusnya mungkin di karpet, ada yang fokusnya di tangga ya. Ada yang fokusnya mungkin di ininya nih di sofa, ada yang di jam, ada yang di lampu ya. Bahkan sampai game game yang kalian mainin ini semua juga adalah produknya dari perusahaan yang dia menghasilkan uang juga. Jadi mungkin di
00:01:37 sini kalian ada yang ngeh, ada yang enggak ngeh ya kayak Clash Royale. Oh, ternyata dia ada ngasilin uang dari orang beli barang di dalamnya misalnya atau ada iklan di dalamnya. Tapi ini masing-masing ini adalah produk dari suatu pihak ya. Kenapa saya sebut kata-katanya pihak ya, bukan perusahaan? Karena kadang ada yang perorangan, enggak selalu itu adalah perusahaan ya, termasuk aplikasi juga ada yang perorangan gitu. Jadi coba tumbuhkan kepekaan ini. Kalau misalnya kita lihat barang-barang di sekitar kita, itu
00:02:03 semuanya hasil dari suatu pihak gitu ya. Baik produk ataupun jasa. Termasuk ini ya. Ini kita lihat ada gedung ini. Saya ingat dulu saya sebagai banker ya lebih dari 10 tahun yang lalu itu ada klien yang pengin bangun gedung di Jakarta Selatan ya. dianalisa, oh gedung itu ada grade-nya, grade A, grade B, terus ada yang namanya ocupancy rate, ya. Oh, ternyata kalau office tower itu di daerah mana itu lebih banyak, jadi okupanc rate-nya lebih rendah. Ini juga bisnis dari perusahaan gitu ya, office
00:02:33 tower, jalanan semuanya. Jadi coba mulai peka di sana dulu karena ini akan nyambung ke yang saya jelasin selanjutnya gitu. Nih termasuk ini ya tadi saya bilang ada ART atau suster yang jaga anak itu adalah produk ataupun jasa dari suatu pihak. Nah, inti utama dari bisnis itu adalah demand and supply, permintaan dan penawaran. Udah sesimpel ini aja. Jadi, kalau misalnya kita mau tarik satu inti utama itu adalah permintaan dan penawaran. Semua ya, semua hal itu adalah permintaan dan penawaran. Yang tadi saya jelasin tuh
00:03:04 ada game, terus ada office tower, terus ada furniture. Itu adalah permintaan dan penawaran. Kenapa? Nah, ini saya kasih contoh dulu. Misalnya kerupuk Bangka ya, mungkin di sini kalian ada yang pernah makan kerupuk Bangka ya. Misalnya di kota kalian ya, kalian mungkin di sini ada yang bukan dari Jakarta ya, itu ada yang dari Makassar ya, Ciko. Di kota kalian ini misalkan enggak ada kerupuk bang, enggak ada yang jual kerupuk Bangka. Tapi orang-orang di sekitar kalian suka kerupuk Bangka ya. Orang-orang di sekitar kalian tiap kali
00:03:32 keluar kota dia beli tuh kerupuk bangka terus dia makan. Berarti di situ ada permintaan. Kalau misalnya di tempatnya kalian gak ada yang jual kerupuk bangka, oke nah berarti ada kesempatan untuk men-supply kerupuk bangka. Sesimpel itu, demand and supply. Semua bisnis sekompleks apapun sampai di level yang kamu e kalian pikir mungkin rumit ya, wah ini sampai ada yang pakai AI atau ada yang bangun gedung pertongkangan. Ujung-ujungnya cuman permintaan dan penawaran. Contoh lagi tempat gym sama ya tempat gym ada yang modelnya di ruko,
00:04:04 ada yang modelnya di mall. Kenapa? Kenapa bisa ada yang buka tempat gym? Ya, karena ada permintaannya. Kalau enggak ada permintaannya, ya dia enggak buka. Kenapa ada yang tempat gym-nya di dekat tempat kantor? Oh, karena memang orang-orang kantor ada kebutuhan untuk nge-gym nih. Makanya kalau dibuka tempat gym ada yang datang dan dan di situ demand-nya terpenuhi. Contoh lagi ya, photoshooot ya. Mungkin di sini kalian ada yang pernah photoshooot keluarga ya. Ini juga sama. Di mana ada permintaan,
00:04:29 di situ ada penawaran. Jadi kalau kita tarik garis lurus semuanya itu sesimpel itu ya. hanya permintaan dan penawaran. Nah, dasar utamanya, dasar utamanya ya kalau misalnya permintaannya lebih banyak dari penawarannya ya, demand-nya lebih banyak dari suplain-nya, di situ ada kesempatan untuk kita memulai bisnis ya. Kita masuk menjadi yang men-supply itu. Misalnya ada satu kota baru nih, katakanlah ya, katakanlah misalnya Elon Mas kan dia pengin ke Mars ya. Terus di Mars nih dibangun kota nih ada
00:04:59 perkantoran, ada rumah ya, terus ada mall. Terus kalian pikir nih, wah di sini orang butuh fitness nih. Mall-nya belum ada nih tempat fitness. Berarti kan ada ada kesempatan di sana ini. Padahal ada demand-nya di sana. Enggak bisa buka tempat fitness. Sama seperti kerupuk tadi. Kalau misalnya ada yang jual nih kerupuk bangka di kota kalian, tapi yang jual cuman satu. Padahal yang minta nih banyak banget, kadang daerahnya jauh-jauh. Nah, di situ demand-nya lebih banyak dari supply-nya. Jadi, ada kesempatan untuk kita masuk.
00:05:24 Tapi kalau supply-nya lebih banyak dari demand-nya, banyak gitu suplainya. sedangkan demandnya sedikit ya itu problemnya saingannya banyak dan jadinya enggak seksi walaupun tetap ada kesempatan untuk masuk ya di dalam kondisi apapun tetap ada kesempatan untuk masuk kalau kita pintar gitu cari celahnya. Oh kita positioning-nya seperti apa, kita mau beda dari orang lain seperti apa. Tetap bisa tapi saingannya banyak terutama kalau demand-nya enggak sebesar itu. Misalnya di satu daerah orang-orangnya tuh mereka
00:05:49 enggak cuci baju di rumah pakai jasa laundry. Tapi tempat laundry-nya udah ada empat di sana. Itu berarti kan suplainya lebih banyak dari demandnya. dan empat itu enggak pernah penuh, selalu cuman 30% keisi. Nah, itu salah satu ciri di mana wah ini supla-nya udah kebanyakan nih. Jadi, ini penting menurut saya ya. Kalau misalnya kita masuk ke satu segmen tuh buat tahu dulu nih, oh ini demand-nya gimana, supply-nya gimana nih. Paling ideal itu ya demand-nya banyak, supplynya sedikit sekali atau enggak ada sama sekali.
00:06:16 Enggak ada sama sekali itu kayak gimana? Kayak misalnya gini, misalnya dulu di tahun 2008 ya, 2007 itu kan belum ada yang Tokopedia ataupun Shopee ya. Tokopedia kayaknya juga baru-baru dibikin. Di luar pergerakannya tuh orang sudah belanja online semua, sudah e-commerce, sudah maksudnya semuanya sudah ada platform yang menyediakan supaya orang bisa jualan online. Di Indo belum ada nih, sedangkan arahnya sudah ke sana, permintaannya sudah berkembang ke arah sana, supply-nya belum ada. Berarti ada kesempatan itu ya. Jadi
00:06:44 kalau misalnya mau nganalisa apapun itu, cara ngelihatnya seperti itu, ya. Demand-nya gimana, supply-nya gimana nih? Kita bisa masuk ke sekarang lanjut ke pertanyaan selanjutnya. Nah, cara cari peluangnya gimana gitu. Sebenarnya banyak ya cara untuk cari peluang, tapi ini saya coba kasih intinya aja karena waktu kita terbatas di sini. Inti utamanya di mana ada problem, di situ ada celah bisnis. Nah, ini terdengarnya memang kelise sekali ya. Ya, ya. Emang kayak gitu, Pak. Di mana ada problem, di
00:07:12 situ ada cela bisnis. Kayak tadi misalnya orang komplain, waduh di tempat kita enggak ada yang jual kerupuk bangka ya, mesti pesan dari luar ya. Atau misalnya ada satu skinc bagus banget ya, dia baru gitu. Terus di daerah kita, kita lihat di komunitas ibu-ibunya pada bilang, "Gila nih skinc yang dari Korea yang ini bagus nih, tapi dari Jakarta ongkirnya mahal nih." Itu kan ada problem gitu. Nah, itu kita bisa isi gimana? Oh, kita jadi reseller-nya misalnya. Jadi, kita mengisi kekosongan dari menyuply solusi untuk problem yang
00:07:41 ada. Sesimpel ini. Di mana ada problem, di situ ada celah bisnis. Nah, ini satu hal yang saya mau ngajak teman-teman untuk mulai munculkan satu kebiasaan ya. Kalau misalnya mau tajam dalam berbisnis menurut saya ya ini hasil analisa saya which setiap orang mungkin punya pandangan yang berbeda ya. Biasakan untuk bisa menganalisa bisnis. Kalau saya tuh tiap kali ke satu tempat misalnya pergi makan nih saya akan lihat oke jumlah karyawannya kira-kira berapa nih? Oke ini kira-kira di jam segini ada
00:08:10 berapa meja? Tadi makan sekitar Rp200.000. Oke, berarti di weekend pendapatannya segini nih. Berarti 1 bulan ya, 1 bulan kira-kira bisa dapat berapa? Profitnya bisa berapa? Kalian semua biasain untuk analisa. Memang kalau misalnya langsung tiba-tiba itu enggak mungkin ya. Langsung tiba-tiba bisa analisa dengan baik itu enggak mungkin ya. Mulai dengan bisnis yang baru aja. Jadi kalau misalnya di kalian lihat di dekat rumah kalian nih, wih ada tempat laundry baru. Nah, kalian coba analisa ini kenapa dia buka, target
00:08:40 pasarnya dia itu siapa. Terus apa yang bikin dia beda? Ya, apa yang dia bikin dia beda? Kenapa dia harganya segitu gitu? Coba tanya pertanyaan ini berulang-ulang ketika kalian melihat satu bisnis baru yang dibuka. Ini sangat-sangat membantu ya. Karena satu hal ini aja ini yang merubah saya menurut saya ya. Saya dulu kan bangkir ya lebih dari 10 tahun yang lalu. Memang kalau sebagai bangkir kita itu kalau ketemu klien di satu industri tertentu, oh iya kelapa sawit, kelapa sawit mainnya gimana ya? Oh ternyata setelah 5
00:09:06 tahun baru mulai dapat profit. Oke. Ternyata kalau ini minimumnya 5.000 hektar. Oh, ternyata 10 tahun, 15 tahun baru balik modal. Maksudnya kita terbiasa ketika melihat satu industri, kita akan analisa dalam industri itu. Jadi mungkin otot itu sudah terlatih ketika saya menjadi bangkir. Tapi yang menurut saya orang lain bisa latih adalah ya biasain berpikir seperti itu. Karena ketika saya keluar dari bank dan saya mulai berbisnis dari lebih dari 10 tahun yang lalu ya itu seperti itu ya yang saya lakukan di dalam pikiran saya.
00:09:32 Ini kenapa dia buka bisnisnya ya? Target pasarnya siapa? Apa yang bikin dia beda? Kenapa dihargai segitu? Walaupun kita enggak tahu jawabannya sekarang. Ya, kalau sekarang mungkin ada chat GPT ya, kalian bisa pakai chat GPT, tanya-tanya aja di sana. Tapi biasakan untuk punya pemikiran ini. Nih kita coba lihat ya. Misalnya nih, Cagi kan baru masuk Indonesia. Coba kalian analisa ya. Chagi kan baru buka ya di di Pack Avenue sama di mana tuh ada di beberapa titik kayaknya dari China. Jadi dia kayak
00:09:57 Starbucks tapi teh. Coba analisa pertanyaan yang tadi. Kenapa dia buka? Kenapa dia masuk Indonesia? Kenapa dia bisa ramai? Kira-kira omsetnya per bulan berapa? Ini semua bisa kita tebak ya. Kalau misalnya kita udah terbiasa itu bisa ditebak. Dulu saya juga berpikir, "Ah, enggak bisa ditebak." Bisa, Guys. Bisa. Kayak misalnya gini, "Oh, untuk tahu si Cagi omsetnya berapa, berarti kita lihat aja di sana orang belinya biasanya berapa." Oh, biasanya orang beli dua gelas. Satu gelasnya harganya berapa? Oh, ternyata Rp40.000 misalnya.
00:10:25 Rp40.000 kayak du Rp80.000. Terus lihat di sana per jamnya berapa customer. Oke, dihitung aja per hari berapa. Terus bedain hari biasa sama weekend itu kita jumlahin. Kita bisa dapat angkanya kira-kira berapa. setiap bisnis bisa dibedah seperti itu. Nah, bedahnya sampai di level apa? Selain keuangan kan juga lihat, oh ini dia kenapa ya dia bisa unggul? Padahal kan yang jual teh gitu juga banyak, bubble tea juga banyak di mana-mana. Kenapa? Pelajarin gitu cara mainnya dia gimana. Kayak misalnya Miso, oh dia tembak banyak cabang. Cara
00:10:52 mainnya dia gimana? Oh, ternyata dia mainnya di supply chain-nya. Jadi di di ranah pabriknya dia pegang semua dia. Untungnya itu dari dia nge-supply ke semua cabang yang buka. Makin banyak cabang buka, makin banyak yang beli dari dia, dia cuannya dari sana. Jadi semakin tajam nanti ketika mau mulai suatu bisnis makin enak gitu ya. Jim Shark ada lagi nih. Ini jualan apparel buat orang-orang yang fitness. Analisa juga ini dari UK ya. Dia lumayan naik namanya anak muda yang bikin. Dia belum 30 kayaknya tapi valuasi perusahaannya
00:11:19 sudah sampai miliaran dolar. Analisa kenapa? Kenapa dia bisa masuk? Oh ternyata dia masuknya di momen di mana influencer marketing ini mulai naik nih. Ternyata dia melihat celah di mana influencer-influencer di bidang fitness nih enggak ditempel sama brand. Nike itu tempelnya ke yang level atas. Wah, juara dunia Olimpiade basketball paling hebat, golf paling hebat. Tapi influencer-influencer yang menengah nih yang juga punya influence besar enggak dipegang sama si Nike dan kawan-kawan. Akhirnya Jim Shark melihat peluang ini,
00:11:49 dia masuknya di sana, gitu. Jadi biasakan dengan ee menganalisa ya. Karena ketika terbiasa menganalisa nanti pada saat menjalankan bisnis sendiri itu lebih enak. Termasuk ini ya mungkin kita lihat sesuatu itu enggak berguna itu belum tentu enggak berguna. Ini kalian lihat yang ada di tengah ini. Yang ini ya. Nih saya tunjuk di tengah ini nih. Ini namanya streamdeck. Ini saya juga pakai ya. Banyak streamer yang pakai. Ini sesuatu yang kalau kita bukan streamer kita enggak akan ngerasa itu sesuatu yang bisa kepakai. Tapi kalau
00:12:14 kita analisa ini menarik. Oh, dia jualannya ke streamer. Gunanya apa? Oh, ternyata supaya streamer lebih enak kalau mencet tombol-tombol. Dia pengin ganti misalnya kayak saya nih ya, saya mau ganti kayak gini. Ini kan dari layar seperti ini dan layar yang seperti ini. Itu kalau misalnya pakai Steam Deck itu tinggal pencet aja tombolnya. Dan saya yakin ini perusahaannya mestinya profitable ya. Dia benar-benar fokus di stream. Tapi intinya biasakan untuk analisa semua industri apapun itu. Jadi nanti ototnya terbiasa karena peluang
00:12:40 bisnis itu bisa di semua ranah. Walaupun nanti kita akan milihnya fokus ya kita maunya di ranah yang kita mau. Tapi biasakan dengan itu. Karena kalau kalian misalnya ketemu sama pebisnis yang kalibernya sudah di atas mereka seperti itu ya. Mereka datang itu bisa kira-kira oh ini tempatnya kayaknya kok enggak profit nih. Oh ini kayaknya profit nih. Profitnya gede nih. Oh nih resikonya di mana nih? Gitu. itu biasakan dengan itu karena ini seperti otot ya. Semakin kita latih dia akan semakin tajam. Semakin
00:13:05 kita enggak latih dia semakin tumpul. Kalau dari saya ya mungkin setiap orang punya pemahaman yang beda. Ini kalau dari saya ya lebih dari 10 tahun lalu sampai dengan sekarang menurut saya yang penting analisanya dulu celahnya di mana. Ini sama seperti foundernya B dance ya si Changiming yang bikin TikTok. Dia bilang sebenarnya yang paling penting itu adalah kemampuan kita untuk tahu celahnya itu di mana. Yang bisa k kita isi itu apa. Sisanya itu bisa nyusul mau rekrut siapa, uangnya dari mana, cara jalaninnya gimana, itu
00:13:34 semuanya bisa nyusul. Yang penting bisa analisanya dulu tahu celahnya di mana. Founder B dance ya ini salah satu saya punya idola ya menurut saya dia itu Steve Jobs-nya China ya. Memang enggak ada masuk di media tapi sangat hebat dalam melihat celah dalam menganalisa. Jadi dia bisa lihat ini celah positioning-nya di mana yang belum keisi, bisa masuknya seperti apa, dengan strategi seperti apa dan eksekusinya juga bagus. Memang semua itu ujung-ujungnya eksekusi. Betul. Tapi sebelum eksekusi itu analisa. Karena
00:14:03 percuma kita jalanin buru-buru. Kalau yang kita naikin tangganya istilah tuh tangga yang salah. Enggak kayak misalnya oke kita mau bikin e masuk dalam ranah bubble tea. Oke langsung aja mulai bisnis bubble tea. Eksekusi cepat gitu ya tanpa menganalisa. Itu juga salah gitu. Lebih baik menurut saya harus tajam dulu juga di analisanya. bisa lihat. Oke, kira-kira seperti apa yang ada nih peta kompetisinya, terus celah mana nih yang bisa kita isi? Karena ilmu untuk membangunnya itu ada di mana-mana ya. Kalau kalian buka di YouTube udah
00:14:31 ada di mana-mana. Di podcast kalian bisa dengerin ilmu membangunnya. Bahkan kalau sekarang kita mau tektokan nanya ke chat GPT juga bisa. Cuman memang kan ada yang nanya saya, "Pak, si Bapak bikin growing buat apa?" Growin itu yang ditekankan ini saya kasih satu slide di sini ya, itu adalah strukturnya. Jadi kalau kalian misalnya ikut webinar, ini juga celah yang menurut saya ya menurut saya belum keisi. Strukturnya itu misalnya gini, kalau misalnya kita ikut webinar itu panjangnya bisa 2 jam, tapi yang
00:14:59 benar-benar kita butuh ilmunya itu mungkin cuma 30 menit, detik 30, detik ee menit kedua, menit kelima, menit keet7uh, tapi kita habisin waktu 2 jam. Nah, saya ngerasa seharusnya itu bisa distruktur nih. Kalau ini saya ambil cupleknya dari web ya. Seharusnya itu bisa distruktur kayak begini nih. Misalnya ini kan ada 9 poin. Ini 9 poin itu dari misalnya 30 menit itu dipotong di struktur seperti ini. Jadi orang itu hanya lihat short videonya aja yang sudah terkurasi terstruktur kerjain kuis kelar udah jadi enggak ngabisin waktu.
00:15:31 Ini singkat aja ya kenapa saya jalanin si Browin seperti ini gitu. Walaupun iya ini memang spesifiknya ke bisnis. Jadi awalnya itu kenapa saya mulai, saya ngerasa ya pada saat saya mulai bisnis dulu pas awal saya ngerasa itu terlalu di mana-mana gitu ilmunya. Allah pengin di bidang A cari narasumbernya yang oke yang mana enggak ada yang ngakurasi, enggak ada yang ngestruktur terus mesti belajarnya yang mana. Jadi ini berangkat dari keresahan saya sendiri. Ini singkat aja ya. Ada yang bilang ke saya, "Pak,
00:15:59 ilmu teknis bisnis mah enggak ada. Bisnis mah enggak ada. Ilmu bisnis apaan?" Iya, ilmu bisnis enggak ada. Memang betul cara untuk bisa menjalankan bisnis adalah langsung jalanin bisnisnya. Enggak ada tuh namanya ilmu membangun bisnis. Yang ada adalah ilmu teknisnya, ya. Ilmu teknis bisnis. Jadi misalnya mulai usaha bagusan pakai CV atau PT, mana yang lebih rendah? Kalau misalnya kita enggak mau pinjam bank, bagusan pakai CV atau PT? Misalnya CV enggak kena pajak. Kalau misalnya kita tarik profit dari Prive, PT kena pajak.
00:16:27 Terus cara branding gimana nih? Kita mau bikin satu produk, produknya ini mau makanan fast food, warnanya merah. Kira-kira teklnya harus gimana ya? Terus pajak bulannya, bulanannya apa nih? Pajak tahunannya apa? Ini kan teknis semua nih. Oh, kalau kita beriklan itu ada yang namanya roas. Jadi yang kita buang uangnya terhadap uang apa? Pendapatan yang kita dapat itu ngitungnya gimana ya? Terus BP-nya itu berapa ya? Kita punya misalnya kita jualan baju, kita harus jual berapa baju nih, baru dapat BP? Ini semua adalah
00:16:54 hal-hal teknis yang minimal sebagai owner harus tahu walaupun ya kita akan ujungnya delegasi. Saya saya setuju ya kita ujungnya pasti delegasi. Kalau bisnisnya sudah besar memang itu lebih enak pasti delegasi. Saya pernah cerita kan kalau misalnya konglomerat mau mulai bisnis ya dia tinggal delegasi aja. Dia punya banyak jenderal yang sudah ngerti banyak hal. Dia delegasi mau apa-apa tinggal tanya. Tapi kalau mulai dari bawah dari nol which is yang saya juga lakukan itu banyak yang kita masih meraba ya. Bahkan dari sesimpel badan
00:17:19 usaha mungkin ada orang yang enggak paham mana yang lebih bagus dan banyak yang kena masalah pajak karena enggak paham ini satu doang. Dan ini banyak sekali ilmu teknis yang kalau kita bedah itu sebenarnya banyak gitu. Makanya saya mulai si grow ini. Itu celah yang saya lihat. Sekarang kita lanjut ke ini ya, pembahasan selanjutnya dari sisi bisnis apa yang sesuai dengan kamu. Idealnya ya menurut saya kalau kita sudah kayak tadi sudah terbiasa analisa bisnis, sudah jalanin bisnis beberapa, kayak saya juga
00:17:44 sudah jalanin bisnis beberapa berangkatnya bukan apa yang sesuai dengan saya, tapi peluangnya apa yang ada di luar gitu. Peluangnya apa, terus kita kejarin itu yang benar menurut saya. Tapi kalau kita masih baru mulai ya, kita masalahnya baru benar-benar baru mulai ada cara yang kita bisa eksplorasi. Kita pahami dulu pertama kita tuh jagonya di mana? Coba deh kalian coret-coret. Oh, gua nih jagonya di legal. Oh, gua nih jagonya di masak. Oh, gua jagonya nih digital marketing. Kalau enggak ada, gimana? Nah, ada orang
00:18:12 yang bilang, "Pak, saya enggak jago apa-apa, tapi saya bisa ketemu orang gitu. Saya bisa marketing. Saya berani ketemu orang. Saya berani ngomong." Oke, pertanyaan selanjutnya adalah kenalan kamu jagonya apa? Gitu. Karena kalau kita mau mulai itu enggak harus kita yang jago. Bisa aja kenalan kita yang jadi partner kita gandeng, dia jago satu bidang yang menjadi inti dari bisnisnya. Itu juga enggak masalah. Kenapa saya tulisnya kenalan? Ya, saya tulisnya bukan teman ya. Karena ada orang yang bilang, "Oh, Pak, kok enggak tulisnya
00:18:37 teman?" Karena menurut saya idealnya jangan berangkatnya dari teman, tapi dari lihat dia jagonya apa ya, misalnya bisnisnya ini intinya butuh apa dan orang ini punya intinya dan dia sama kita enggak overlap, kita bareng, visinya bareng, kita bareng. Banyak orang yang salah itu adalah oke kita teman ya karena kita teman kita mulai ya kira-kira lu bisanya apa? Oh ini lu bisa tapi biasa-biasa aja ya udah enggak apa-apa deh. Nah itu itu udah salah tuh dari awalnya udah salah menurut saya ya mungkin setiap orang punya pandangan
00:19:03 yang berbeda. Idealnya tidak berangkat dari teman. Kalaupun teman enggak apa-apa tapi awalnya udah tahu dulu nih oh visinya sama nih sama kita. Oh dia punya kemampuan enggak overlap sama kita. Oh, yang dia punya kekuatan ini cocok nih untuk bisnisnya nih. Inti dari bisnisnya butuh kekuatan dia. Jadi, coba dianalisa kalian coret-coret aja. Kenalan itu bisa dari siapapun ya. Kalian baru ketemu sekali, baru ketemu dua kali, teman dicoret-coret aja. Ketika sudah dicoret-coret nanti kira-kira kebayang, oh kalau dari
00:19:32 kekuatan yang ini nih ada bisnis serupa itu apa ya? Misalnya kamu jagonya digital marketing, bisnis serupanya apa? Digital marketing agency. Kamu jagonya legalitas, pahamnya. Bisnis serupanya apa? jasa legalitas ya. Misalnya kamu jagonya apa? Masak, bisnis serupanya apa? Restoran gitu. Dari sana baru digali, oke, ada celahnya apa ya? Di luar digital marketing agency udah ada berapa. Nah, mulai untuk analisa oke udah ada berapa? Terus celahnya apa yang belum keisi. Jadi seperti yang tadi saya bilang ya, harus analisa. Lihat misalnya
00:20:01 restoran Jepang, oh restoran Jepang di daerah tempat kalian udah ada apa aja? Mereka kondisinya kira-kira gimana? Datangin tempatnya, analisa ada celah enggak. Nah, bisa mulai dari sini. Ini untuk pemula ya. Menurut saya setiap orang punya pandangan yang berbeda ya. Tapi kalau sudah ahli, sudah tajam ya menurut saya kalau sudah berkali-kali berbisnis itu bisa lihatnya kebalik. Lihatnya peluangnya dulu apa. Kita bisa atau enggak bisa, nanti kita cari orang yang paham. Misalnya sekarang saya melihat, wah ini kayaknya bisa nih bikin
00:20:28 restoran Padang di kota A. Saya enggak ngerti nih. Saya saya juga enggak ada kenalan yang paham untuk bikin makanan Padang. Berarti yang saya lakukan adalah saya cari di luar. Siapa nih saya ajak ngomong, ada orang yang kenal enggak? Setelah itu saya kumpulin orang-orangnya baru mulai bisnisnya. Idealnya seperti itu kalau udah bisnis berkali-kali. Tapi kalau baru mulai menurut saya bagusan dari refleksi kekuatan. Kekuatan kita di mana ya? Terus kita lihat celahnya ini di mana. Dan ini penekanan yang selalu
00:20:54 saya ulang-ulang. Selalu saya ulang-ulang. Uang itu tidak harus dari sendiri. Ya, banyak orang bilang, "Pak, saya kepentok modal." Enggak harus dari sendiri. Bisnis saya yang pertama yang saya jalanin itu namanya Portals Escape Room. Sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Ini juga sudah tutup ya. Itu bisnis pertama yang saya benar-benar coba itu bersama dengan teman-teman saya totalnya bersembilan masing-masing masukin Rp90 juta totalnya R810 juta. Saya enggak ada Rp810 juta di saat itu. Saya adanya Rp90 juta yang saya rela
00:21:20 untuk dicoba untuk bisnis pertama saya pengin tahu bisnis itu jalaninnya gimana. Saya kumpulin orang, saya presentasi ke 15 orang, 8 orang mau. Jadi 9 * 90 R810 juta. Jadi uang tidak harus dari sendiri. Bahkan kalau kita lihat konglomerat ya, dulu saya pernah menjadi bangkir. Saya ketemu dengan konglomerat. Mereka itu bahkan kalau memulai sesuatu ada duitnya pun mereka enggak mau pakai duit sendiri. Misalnya pengin bangun office tower ya, terus ada tanahnya nih. Butuhnya 800 miliar. Dia ada duitnya. Duitnya ada triliunan di
00:21:51 punya grup usaha tapi dia cari cara gimana supaya dia enggak keluarin duit. dia cari investor, terus yang tanah diajak sharing, ujung-ujungnya enggak keluarin duit, tapi projjectnya gede. Jadi, nah itu kalau sudah di level yang kaliber atas, menurut saya dia sudah biasa dengan itu. Dan kebiasaan itu menurut saya harus dari awal. Memang ini kita bicara masalah ideal. Setiap orang punya idealisme yang berbeda. Kalau kita pakai duit investor, memang kita harus laporan ke investor tiap bulan. Dan ada
00:22:19 orang-orang yang enggak mau, enggak mau. Emangnya gua babu lu? Kayak gitu kan berasanya kayak gitu kan. Ada teman saya tuh dia berasa kalau pakai duit investor ngerasanya kayak bawahannya orang itu. Enggak apa-apa menurut saya kalau misalnya memang bisa tahan ya banyak orang-orang yang mereka bisa tahan. Contohnya ya ini perusahaan-perusahaan ini kalau kalian lihat sampai awal dia berdiri sampai dengan sekarang foundernya enggak pegang 100% guys. Founder-founder dari perusahaan yang ada di sini mereka enggak ada yang pakai
00:22:44 mereka punya dana sendiri dari awal. Jadi mereka sudah ada investor yang masuk dikasih saham terus sejalan dengan waktu mereka tambah investor terus. Tapi ada enggak yang pakai dana sendiri sampai jadi gede? Ada. Misalnya chess.com atau Mailchim. Kalian Google aja ya. Itu pendapatan tahunan sampai triliunan dan dia pakai dana sendiri. Organik. Jadi balik lagi yang ingin saya tekankan adalah uang tidak harus dari diri sendiri. Tapi kalau kalian pengin uangnya dari diri sendiri ya sudah enggak apa-apa. Cuman kalau pendapatan
00:23:14 kita enggak gede dan modal bisnisnya butuh gede misalnya saya dulu mulai escape room Rp810 juta 9 orang. Kalau saya ngotot, wah gua penginnya pakai duit gua sendiri. Dan di saat itu saya baru bisa kumpulin duit R00 juta dalam 5 tahun misalnya, berarti saya nunggu 5 tahun. Padahal bisnisnya tren-trenan. 5 tahun selanjutnya bisnis escape room udah enggak ngetren. Itu cuman hype-hype doang gitu. Jadi ini adalah pilihan ya. Dan menurut saya peluang itu datangnya ada momennya. Jadi kalau misalnya sudah
00:23:47 kelewat itu kadang momennya enggak ada lagi. Jadi idealnya kalau memang peluangnya di depan mata ya terus kalian uangnya enggak cukup ya sudahlah kita gandeng investor, gandeng partner yang mau bareng gitu ya. Nah ini ini penting sekali ya. Awal berbisnis itu mikir jangan terlalu ngejelimet. Orang tuh kalau terlalu pintar ya terlalu akademis founder dari Amazon itu dia sekolahnya pintar. Kalian coba Google aja Amazon punya founder itu pintar. Elon Mas pintar pintar ya. Banyak orang yang pintar dan mikirnya juga ggak ngejelimet
00:24:17 gitu. Maksudnya, maksudnya saya intinya tuh jangan jangan berpikir terlalu ngejelimet. Ngejelimet tuh gimana? Oh, tapi nanti kalau jalanin bisnis, bisnisnya kurang duit di bulan keenam gimana? Tapi nanti pada saat digedein kita enggak ngerti yang ini gimana. Misalnya mau bikin restoran, buka tiga cabang, Central kitchen-nya gimana. Jangan terlalu ngejelimet. Mulai aja dulu ya. Karena nanti pada saat mulai itu kita akan ngeraba banyak hal. Makanya saya bilang kalau misalnya ngejelimet yang paling susah itu pas mau
00:24:42 mulainya. Percaya sama saya, pas mau mulainya itu paling susah. Ketika kalian udah biasa mulai itu nanti udah mulai bisnis kedua, bisnis ketiga, bisnis keempat itu sudah terbiasa. Ya, kalau kalian mau mikirin aspek-aspek teknisnya gitu ya, mau tahu apa yang perlu dipelajarin ya enggak apa-apa pelajarin. Tapi jangan terlalu jelimet mikirnya sampai kalian sendiri enggak mulai ya. Jadi ingat ya, ini penting sekali ya karena saya ingat sekali ya saya pada saat dulu bekerja di perbankan ya khususnya untuk teman-teman di sini yang
00:25:09 bekerja di corporate ya. Kita kalau kerja udah lama ya, otaknya kita itu gak mau resiko apalagi kalau bangkir ya. Jadi kalau emang kalian mau bisnis ini kalian harus catat nih. Kalau bisa kalian catat taruh di di handphone kalian karena dulu saya juga gitu wah mikirnya jelimet banget itu pada saat saya bikin bisnis pertama saya bikin PPT kayak begini nih. PPT-nya juga jelek lagi. Bikin PPT sampai wah ini yang datang kira-kira berapa nih? Kita akan positifnya dapat uangnya bisa berapa. Terus kalau misalnya rugi, maksimal
00:25:41 ruginya berapa? Terus nanti kalau buka cabang kedua gimana? Wah, itu ngejelimet banget. Saya ingat pertama kali saya berbisnis, saya juga ngajelimet karena saya sudah orang corporate ya, sudah pernah bekerja sebagai profesional. Tapi makin ke sini, makin sudah jalanin saya berasa oh iya itu karena sudah kelamaan kerja juga, sudah kelamaan saya jadi karyawan 3 tahun. Walaupun enggak semua karyawan seperti itu, ya. Kalau karyawan yang memang dia ada sifat entrepreneurialnya ya enggak seperti itu. Tapi saya kebetulan orang yang
00:26:08 sangat enggak mau resiko dulu. Makanya mikirnya jelimet. Jadi saya pada saat bikin presentasi buat saya punya bisnis yang pertama itu juga sama jelimat banget sampai 30 halaman terus sampai ada proyeksinya sampai yang enggak perlu dipikirin pun saya pikirin. Nah itu ternyata setelah sudah beberapa kali saya baru sadar, oh ternyata enggak seperti itu. Ternyata kita pada saat mau memulai itu memang yang inti-intinya aja. Oke balik modalnya kira-kira berapa lama? Oke kira-kira masuk positioning-nya seperti apa? Oke,
00:26:39 kira-kira kita butuh modal awal berapa? Inti-intinya aja, enggak usah sampai ngejelimet. Begitu inti-intinya sudah kita petakan, udah jalanin. Enggak usah pikir nanti kalau gagal gimana segala macam. Ya, bisnis itu memang ada resiko. Mau sehebat apapun, sepintar apapun ada resiko. Coba kalian lihat perusahaan besar di Indonesia, startup besar ya, startup yang berhasil jadi besar ya. Misalnya kan ada beberapa ya. Kalau misalnya bisnis itu semudah itu enggak ada resiko, maka founder-founder yang bikin bisnis yang besar itu dia bisa
00:27:08 mengulang terus-terusan dong. Misalnya dulu ada yang namanya kaskus. Kalian mungkin tahu di sini ada yang namanya kaskus. Coba lihat kaskus gimana foundernya? Apakah dia bikin sesuatu yang langsung besar lagi? Ya, enggak. Karena terlepas dari semua ilmu yang kamu punya, terlepas dari semua pikiranmu seperti apa, terlepas dari presentasinya kamu sedalam apa, memang ada resikonya. Jadi, udah gak usah terlalu banyak mikir ya. Jangan terlalu ngejelimet. Udahlah gitu. Ini penting sekali ya. Ini nanti ketika sudah
00:27:35 beberapa kali jalanin bisnis kalian akan mulai terbiasa dengan pemikiran ini. Awalnya saya juga enggak paham karena saya orang yang mikirnya jelimet banget karena saya orang keuangan. Ya, ini saya kasih beberapa pandangan ya. Ada orang yang bilang, "Pak, kayaknya kalau misalnya mau bisnis itu harus bakar kapal. Jadi saya keluar dari pekerjaan saya yang saya lakukan sekarang nih fokus langsung bisnis all in." Ya, ini jujur kalau saya menurut saya kalau masih muda sih bagus karena kita punya waktu, energi, fokus ya itu semuanya
00:28:04 bisa difokuskan ke satu hal tapi enggak ideal kalau kita sudah cukup berumur. Bahkan kalau kalian lihat foundernya Nike ya, yang bikin Nike tuh kalau kalian baca bukunya, dia juga enggak bakar kapal kok. Dia kerja dulu jadi akuntan. Kenapa? Karena ada keluarga, ada istri yang mesti dihidupin. Dia ada biaya hidup bulanan. Ini saya pernah cerita ya lebih dari 10 tahun yang lalu ada kenalan saya. Kenalan dari kenalan saya jadi saya gak kenal orang ya. CC saya diceritain umurnya 40 lebih, dia bakar kapal, dia keluar dari dia punya
00:28:36 kerjaan yang di mana dia udah senior. Dia all in ke bisnis restoran. 2 tahun dia jalanin. Enggak berhasil, Guys. Dia sampai pinjam uang buat bertahan hidup dan dia balik kerja lagi. Jadi bakar kapal tidak ideal menurut saya ya. Kalau masih muda, enggak ada tanggungan, tinggal sama orang tua, silakan bakar kapal. Tapi kalau misalnya kalian sudah berumur ya sudah 30, sudah di atas 30 apalagi menuju 40, jangan bakar kapal. Lebih baik adalah dua kaki. Jadi kalau kalian baca bukunya si pendiri Nike, dia
00:29:05 dua kaki. Dia satu kaki dia kerja sebagai akuntan di universitas. Satu kakinya lagi dia jalanin bisnis dan dia keluar ketika bisnisnya bisa ngegaji dia. Jadi bisnisnya bisa ngegaji dia buat dia hidup bulanan sama keluarganya. Baru dia keluar fokus di bisnisnya. Karena dia tahu kalau bisnis enggak difokusin enggak bisa jadi gede. Dia keluar, dia fokus. Ya, walaupun memang ada resiko di sana, perjalanan bisnis pasti ada up and down ya. Tapi intinya pada saat memulai menurut saya dua kaki paling ideal. Walaupun dulu saya pada
00:29:36 saat jalanin bisnis escape room itu part-time tuh itu sebenarnya bisa dibilang dua kaki ya. Tapi pada saat saya keluar dari perbankan mulai untuk bisnis, bisnis yang escape room ini belum begitu menghasilkan untuk bisa menghidupi saya. Jadi enggak benar-benar dua kaki sebenarnya. Ada bakar kapal juga karena saya masih muda. Wong masih 20-an belum nikah. Tapi kalau sudah nikah jangan guys. Jangan. Jangan gila. Walaupun ada orang yang cerita, "Wah, gua udah nikah kok. Gua pernah fight ya bakar kapal." Gini. Menurut saya itu
00:30:02 enggak ideal. Lebih baik dua kaki. Jalanin aja. Pulang dari kantor jalanin bisnisnya terus di Sabtu Minggu jalanin bisnisnya. Nanti kalau bisnisnya sudah bisa ngegaji kita sesuai dengan gaji yang kita butuhkan, baru kita full time. Ada orang bilang, "Pak, kalau saya buka tempat laundry berarti saya harus jagain tempat laundry-nya 12 jam kan pada saat operasional berjalan." Nah, itu kan sudah pandangan yang salah. Padahal sih tempat laundry-nya bisa pakai CCTV, terus kita bisa rekrut orang yang mungkin levelnya junior enggak apa-apa
00:30:32 tapi diajarin dia cara jaganya gimana. Itu semua kalau misalnya kita niatin pasti bisa kayak foundernya Nike, dia bisa kok jalanin pabrik. ada pabrik sepatu. Dia ngajar jadi profesor di pagi sampai sore. Terus setelah itu dia jalanin dia punya pabrik. Dan di pabrik ini memang ada orang yang jadi orang kepercayaan dia ya yang dia rekrut untuk kasih tahu nih ngawasinya apa segala macamnya. Jadi kalau misalnya dibilang, "Pak, sekarang enggak ideal, enggak, justru sekarang harus dua kaki." Jangan bakar kapal. Menurut saya, kita pindah
00:30:59 ketika yang bisnisnya sudah bisa mulai ngegaji kita. Oke. Kalau masalah nikah menurut saya itu setiap orang punya preferensi ya, tergantung bagaimana. Tapi kalau misalnya kalian sering baca buku biografi ya, misalnya Pak Mukhtariadi ada buku namanya Manusia Id atau misalnya kalian baca bukunya Pak Tahir ya, coba kalian baca buku Konglomerat punya biografi terutama yang mereka tulis sendiri. Rata-rata mereka memang nikahnya di muda karena target mereka di ujungnya mereka mau bangun seperti kerajaan di mana anaknya tuh
00:31:31 ngisi banyak bisnis yang dia jalanin. Karena kalau misalnya mulai di umur 20 pada saat dia umur 60 dia sudah punya banyak cucu. Ya, dia sudah punya banyak cucu dan bisa dimasuk-masukin ke dalam dia punya grup usaha. Itu kalau kacamatanya mereka. Tapi kalau kita bilang, "Oh, zaman sekarang kalau mau bisnis e bagusan langsung nikah." Ya, setiap orang punya pandangan yang berbeda. Saya tahu ya, orang-orang yang dia buru-buru nikah dan dia mau berbisnis itu sangat enggak ideal ya, karena waktunya kegerus, belum punya
00:31:58 duit untuk delegasi, belum bisa ada asisten yang bantu di rumah, misalnya jaga anak atau misalnya untuk supir, dia harus ada waktu yang dihabisin di rumah, tapi di saat yang bersamaan dia harus fight, ada pendapatan untuk e keluarganya dan dia harus mulai bisnis. Itu menurut saya kurang ideal. Tapi setiap balik lagi ya saya enggak akan ke ngejust dan kasih satu pemikiran yang oh harus kayak gini. Setiap orang punya pandangan yang berbeda. Tapi saya tadi kasih pandangan di mana kalau konglomerat mereka biasanya akan nikah
00:32:27 semudah mungkin supaya di ujungnya bisa masuk-masukin ke dalam grup usahanya. Ini satu hal yang enggak banyak orang ngomong ya. Jadi kalau misalnya mau mulai bisnis satu hal yang bisa kalian kejar adalah jadi orang kepercayaan. Ini jalur entrepreneurship yang banyak orang enggak ngomongin ya. Tapi ini saya menjadi saksi ya dari saya menjadi bangkir sampai dengan sekarang ya. Jadi saya pernah ketemu di industri terkait dengan laut ya. Saya enggak bisa sebut spesifik yang di mana dia itu dulu kerja
00:32:56 sebagai orang kepercayaan di sana. Dia ngerjain semuanya dan akhirnya pada saat umur 40 dia melihat ada peluang. Dia minta izin sama atasannya dia keluar dia mulai usaha sendiri di bidang yang sama. Dan ini sudah berulang-ulang terjadi ya dari puluhan tahun yang lalu sampai dengan sekarang. orang kepercayaan itu adalah orang yang memang bisa memulai bisnis sendiri karena dia dikasih pegang semuanya ya. Jadi kalau misalnya kalian ngerasa wah belum tahu mau bisnis apa tapi ujungnya mau bisnis ya bisa jadi
00:33:23 orang kepercayaan ya. Jadi masuk ke dalam perusahaan yang masih kecil, bosnya oke. Dan bosnya juga penting ya karena ada orang yang masuk ke dalam perusahaan yang bosnya enggak oke ya. 20 tahun juga satu toko tetap satu toko enggak ada ambisinya. Tapi kalau kalian masuk ke dalam satu perusahaan yang bosnya ambisinya besar dan kalian ikut naik, itu kalian ngelihat semuanya. Kalian akan ngelihat bagaimana perusahaan kecil dijalankan, bagaimana perusahaan kecil menjadi besar, bagaimana menstruktur supaya rapi,
00:33:51 bagaimana melihat peluang, itu akan melihat semuanya. Bahkan Cagi, Cagi itu sebelum si foundernya bikin Cagi, dia tuh kerja di industri sejenis hampir 10 tahun. Jadi dia kerja jadi kasir, dia kerja jadi orang yang bikin minumannya di bagian supply chain-nya, di pergudangannya sampai 10 tahun sampai jadi area manager. Dia keluar, dia kerja lagi di satu perusahaan yang fokusnya di bagian teknologi kalau enggak salah itu dia belajar tentang investasi. Lalu dia mulai sendiri, cagih. Jadi cerita yang
00:34:20 kayak gini tuh berulang ya. Orang-orang yang dia dari bawah dia belajar semuanya tentang suatu industri dan dia mulai sendiri. Nah, satu jalur yang paling cepat itu adalah jadi orang kepercayaan dan ini open ya. Bahkan saya kalau di perusahaan saya kan juga ada orang yang saya percaya ya itu mungkin ke depannya pasti dia kalau misalnya dia memang entrepreneurial memang mau memulai ya pasti akan ya kita oke-oke aja gitu. Jadi sesuatu yang biasa aja gitu. Memang orang kepercayaan akan belajar paling
00:34:46 banyak. Jadi harus pilih kalau bisa perusahaan yang kecil yang lagi mau berkembang dan bisa jadi besar. Bosnya ambisinya besar dia mau nyoba banyak dia kasih kita nyoba banyak gitu. dia kasih kita cobain banyak hal untuk kita belajar. Karena kalau kita kerja di korporasi besar ini jujur-jujuran aja ya, kita kekunci belajarnya cuman satu hal. Belajar digital marketing ya itu doang 10 tahun ya itu doang. Kerja jadi admin legal 10 tahun itu doang enggak enggak bisa beda gitu yang dipelajarin sama orang yang megang perusahaan yang
00:35:13 kecil sampai jadi gede. Jadi ini saya kasih satu rangkuman utama. Jadi kalau sekarang kalian mau mulai bisnis ini, waktu kalian harus dialokasikan ketiga hal ini. Yang pertama, kalian serap semua ilmu yang kalian butuhin, which is memang ada yang gratis ya. Di YouTube banyak yang gratis, webinar juga banyak yang gratis. Atau kalau misalnya mau mau berbayar di Growin yang sudah terstruktur juga boleh terserah. Yang penting ada waktu kalian serap semua ilmu teknis bisnis yang kalian butuhin. Jadi pada saat jalanin udah ngerti
00:35:42 semua. Oh, kalau roas tuh gini. Oh, kalau pakai CV tuh gini. Oh, pajak tuh gini. Oh, branding tuh gini, udah tahu semuanya. Dan itu cuman butuh waktu 1 2 tahun kalau kita benar-benar tajamin. Kurang lebih mestinya sih udah paham semua. Terus kedua, biasain analisa bisnis yang tadi saya sudah tekanin ya. Kalau misalnya ngelihat bisnis mulai hari ini ya saya ngajak kalian ya jangan cuma nonton begini doang. Mulai analisa bisnis. Jadi di luar ada bisnis apa dia kenapa mulai bisnis itu peluangnya di
00:36:09 mana ya terus dia punya omset berapa kurang lebih untungnya berapa. Ini harus sampai di level yang kalian lihat 10 menit udah kebayang. Ini mungkin ggak semua orang akan langsung bisa. Menurut saya mungkin butuh waktu ya. Mungkin awal-awal akan ngitungnya lama. Butuh pakai Excel dulu ya. Pakai Excel terus tanya-tanya chat GPT enggak apa-apa. Tapi lama-lama ketika kalian udah berulang menganalisa itu akan tajam. Sama yang terakhir itu adalah dari sisi ngobrol ya. Itu ngobrol sama partner juga berguna ya. Ngobrol sama potensi
00:36:38 partner ataupun orang yang sudah menjadi pebisnis ya. Waktu untuk ngobrol dengan orang yang berpotensi jadi partner itu juga penting. Jadi kalau mau pilih partner bisnis itu jangan oh ketemu oh kayaknya cocok nih langsung jadi partner. Enggak enggak jangan kayak gitu ya. Makanya saya bikin video Hog gitu sih tuh salah satunya kan apa ketipu sama partner ya partner bisnis di ceritanya H kok gitu sih? Yaitu karena ada orang yang dia enggak nyaring. Kalian harus bisa nyaring dan harus belajar cara untuk ngelihat orang ya.
00:37:06 Kemampuan untuk ngelihat orang itu kemampuan yang akan kalian butuhkan. sebagai pebisnis. Karena ketika bisnis menjadi besar, kalian akan delegasi, fokusnya di delegasi. Akan ngelihat, oke, orang yang ini nih kuatnya di mana nih? Bisa ditaruh di mana nih? Oh, orang yang ini bisa dipercaya nih. Yang ini enggak bisa dipercaya nih. Kemampuan melihat orang itu sangat penting. Enggak cuman di level melihat partner, tapi sampai di level nanti ketika bisnis menjadi besar. Itu yang paling penting. Biasanya orang yang sampai di atas
00:37:35 sampai di level konglomerat, mereka sangat bisa melihat orang. Mana orang yang enggak akan ke mana-mana, mana orang yang bisa dipakai, mana orang yang bisa dipercaya. Karena ketika sudah sampai di level atas ya kita memang ng-dealnya sama orang. Kita delegasi ke tugas ke orang yang punya tim, yang punya tim, yang punya tim ketika bisnis sudah besar. Tapi ketika bisnis masih kecil ya kemampuan itu juga penting. Nah, ini balik lagi kalau cari partner bisnis harus bisa disaring. Makanya harus ada alokasi ngobrol. Ei, lu mau
00:38:04 bisnis apa? Oh, lu kuatnya digital marketingnya. Ya, kita kapan-kapan ngobrol yuk kita makan bareng yuk. Oh, menurut lu kalau mulai bisnis gini enaknya bisa jalanin 10 tahun paling gede jadi gimana ya? Menurut lu celahnya di mana? Iya nih, gua juga tertarik. Kadang kalau kita sering ngobrol, makan sekali, makan dua kali, makan tiga kali, itu kita akan tahu orangnya kayak gimana. Dia sama kita sevisi atau enggak, dia bisa enggak jadi partner kita. Harus sering-sering ngobrol. Jadi, ini pelajaran yang menurut saya penting
00:38:32 banget ya ngobrol sama potensi partner bisnis. Karena memilih partner bisnis itu penting sekali. Karena kalau kita salah pilih nanti pada saat kita sudah jalan itu lepasnya lebih susah. Trust me. Bayangin ya, bisnisnya udah jalan untung R juta per bulan. okelah masih kecil tapi kalian pengin lepas sahamnya itu harus beli sahamnya dia atau dia beli sahamnya kalian. Terus pas kalian mau keluar kalian kan mau mulai bisnis yang sama itu nanti akan ada konflik-konflik yang enggak enak gitu. Makanya milih partner dari awal itu
00:38:59 penting sekali ya. Harus ajak ngobrol yang banyak. Jadi tiga ini waktunya kalian jangan kalian buang dengan sia-sia. Buang dengan sia-sia tuh nge-escroll nge-scroll sosm enggak jelas ya. Terus nonton drakor ya. Terus ngapain lagi? Cari-cari barang belanjaan yang murah. waktunya dialokasikan untuk tiga hal ini. Untuk tiga hal ini. Walaupun belum tahu mau bisnis apa, tiga hal ini dulu. Semakin mudah semakin bagus. Ya, jangan sampai nanti udah tua baru nyadar. Karena banyak orang kayak gitu, "Ah, gua masih 20. Gampang nanti
00:39:30 umur 30 aja." Tiba-tiba udah umur 35, tiba-tiba punya anak tiga, enggak bisa udah mulai bisnis lagi. Ini gampang untuk diomongin. Saya kasih kasih gini, "Wah, alok kasih ini gampang ya." Saya nunjuk-nunjuk gini dan ngomong gampang. Tapi eksekusinya gak segampang itu. Dari kalian 2700 ini berapa nih viewsnya? Ada ribuan ya. Ribuan orang yang nonton ini. Menurut saya mungkin hanya 10% yang akan benar-benar wah dia akan alokasi waktu sejam setiap hari belajar terus dia akan mulai analisa bisnis. Tiap kali lihat
00:39:57 bisnis dia akan coret-coret dan dia ngobrol sama orang tentang bisnis. Jadi saya harap kalian jalanin benar-benar. Hasil akhir dari apapun dalam hidup kita itu adalah hasil dari usaha kita. Walaupun memang hoki itu ngaruh kayak tadi saya bilang kalau misalnya udah pernah bikin perusahaan yang besar satu, kenapa dia gak bikin perusahaan besar terus-terusan? Ya memang ada faktor hoki, tapi at least hasil akhir kita itu dari kita punya usaha. Dan ini yang saya selalu ingat ya, setiap kali saya lagi
00:40:24 mencoba sesuatu ya kayak sekarang kan saya juga lagi mau launching satu aplikasi buat anak-anak. Sakit dalam berproses itu lebih mending daripada sakit karena penyesalan di umur tua. Balik lagi ya. Tidak setiap orang mau jadi pebisnis itu enggak apa-apa. Karena memang bisnis itu ada resiko. Tapi bagi kalian yang mau mulai bisnis, kalian harus ingat ini. Karena saya pernah ketemu dengan orang-orang yang sudah umur 50 dan dia bilang 50 60 ya. Dia bilang kalau dia bisa balik ke umur muda, dia mau mulai bisnis. Tapi dia di
00:40:53 umur tua udah enggak bisa dia menasah. Lebih susah energinya enggak sebanyak pada saat umur muda. Walaupun di umur tua juga bisa ya. Kalau misalnya kita lihat kayak Pak TP Rahmat, founder dari Triputra Grup, kalian bisa Google. Dia tuh dulu CEO Astra sampai dia umur 55, 60 dia baru keluar dia bikin dia punya usaha dengan dia punya pengalaman dan koneksi gitu. Tapi ya yang ingin saya tekankan adalah kalian harus ingat ini. Ini saya selalu ingatin ini ke diri saya sendiri. Lebih itu kalau kita nyesal
00:41:19 pada saat sudah tua daripada kita sakit di prosesnya. Harus capek belajar, harus capek analisa bisnis, harus capek coba, gitu ya. Jadi ini pesan saya terakhir untuk kalian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar